Pajak Untuk Lingkungan (Tax Goes Green) Wacana Peran DJP Dalam Memperbaiki Iklim Dunia

Semenjak isu global warming digelontorkan,terutama oleh Al Gore, maka masyarakat dunia termasuk juga para kepala Negara semakin concern dalam memperhatikan lingkungan. Konferensi konferensi yang membahas perubahan iklim dunia pun sering digelar. Mulai dari pertemuan di Jepang yang melahirkan ProtoKol Kyoto hingga yang terakhir pertemuan di Kopenhagen yang telah menghasilkan kesepakatan dalam memperbaiki lingkungan. Jika melihat proses dan hasil dari konferensi tersebut, terlihat bahwa Negara maju telah memperhitungkan peranan penting dari Negara Negara berkembang termasuk Indonesia dalam isu perubahan iklim dunia.

DJP, sebagai salah satu institusi pemerintah yang memegang peranan paling besar dari sisi penerimaan negara, tentu dapat berpartisipasi dalam mewujudkan iklim dunia yang lebih baik. DJP melalui kebijakan kebijakannya, dapat membantu kalangan usaha baik secara langsung maupun tidak untuk mengurangi emisi karbon yang mereka hasilkan sekaligus dapat meningkatkan penerimaan. Kebijakan yang diterapkan dapat berfungsi tidak hanya dalam hal budgeting, tapi juga dalam hal regulatory.

Wacana yang selama ini berkembang adalah penerapan  pajak lingkungan yang sudah menjadi RUU, namun hingga saat ini belum diketok palu untuk menjadi UU. Dalam konsep pajak lingkungan, pungutan akan diberikan pada pihak yang memperparah terjadinya polusi. Atau secara ringkas the polluter pays principle. Aturan ini tentu saja menimbulkan gejolak di kalangan usaha. Tentu saja para pengusaha tidak menyetujui dan mungkin hal ini yang menghambat proses pembetukan Undang Undang Pajak Lingkungan.

Wacana lainnya yang dapat diterapkan adalah pemberian kredit pajak (tax credit) dan penambahan item beban yang dapat dikurangkan (deductible tax expense) terhadap perusahaan yang mampu memberikan kontribusi positif dalam mengurangi emisi udara dan polusi yang dihasilkan. Sepertinya, kebijakan ini lebih bersahabat bagi kalangan usaha. Selain itu, hal ini bisa juga dianggap sebagai CSR (Corporate Social responsibility)-nya DJP sebagai pihak yang berperan dalam perbaikan lingkungan. Barangkali, dengan begini DJP bisa saja mendapatkan hadiah kalpataru atau penghargaan dari Kementrian Negara Lingkungan Hidup sebagai instansi pertama yang mampu berperan langsung dalam perbaikan iklim dan sebagai promoter instansi pemerintah lainnya untuk lebih concern dalam isu isu lingkungan hidup .

Kebijakan pemberian kredit pajak dan penambahan deductible expense sebenarnya telah dilaksanakan di Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan memperhatikan masalah pembayaran pajak sangat tinggi. Tidak seperti di Indonesia. Namun, kita bisa mengambil hal hal positif dari sitem perpajakan mereka. Contoh kebijakan yang dapat kita terapkan dalam pemberian kredit pajak dan penambahan deductible expense adalah:

  1. Jika ada pengusaha yang membeli mobil hybrid atau kendaraan yang memakai tenaga listrik, maka dapat diberikan kredit pajak lebih, misalnya 30 % dari harga mobil dengan batasan maksimal pengurangan 10 juta. Selain itu, untuk mobil tersebut diberikan amortisasi penuh.
  2. Untuk penggunaan solar-cell, maka diberikan amortisasi penuh dan dipercepat agar dapat menambah deductible expense yang ada. Atau atas pembelian solar-cell dibebaskan tidak dikenakan dari PPN (thanx buat bang dian atas koreksinya)
  3. Untuk penggunaan AC non-CFC maka diberikan pengurangan pajak sebesar 10 % dari harga AC.
  4. Untuk pembuatan green-roof, maka diberikan pengurangan pajak sebesar 5% dari biaya yang telah dikeluarkan.
  5. Menggalakkan penggunaan e-SPT, karena semakin sedikit kertas semakin sedikit pohon yang ditebang.
  6. Penambahan deductible expense untuk biaya reboisasi hutan dan juga biaya perbaikan lingkungan akibat penambangan.

Masih banyak kebijakan sejenis lainnya yang lebih bersahabat bagi lingkungan dan lebih bersahabat bagi kalangan pengusaha dalam membantu mereka untuk mengurangi emisi udara dan zat zat pollutan. Memang, hal ini akan mengurangi penerimaan Negara. Tapi, mudharat yang ditimbulkan bila kerusakan lingkungan dibiarkan berlarut larut akan lebih besar daripada penurunan penerimaan. Belum lagi biaya yang harus ditanggung APBN dalam memperbaiki lingkungan yang sudah rusak. Kebijakan juga dapat menjadi ajang perdebatan dalam hal deductible dan non deductible expense. Namun hal ini dapat ditanggulangi dengan memberikan aturan aturan rinci yang tidak multi tafsir terhadap kebijakan yang ada.

Semuanya memang hanya wacana. Sebuah pemikiran kecil untuk memperbaiki planet kecil yang telah diamanahkan Tuhan pada kita. Namun jika kita terus menerus  berusaha memperbaiki alam, semesta pun akan mendukung. Tak hanya kita yang akan merasakan akibatnya, anak cucu kita pun akan masih bisa menghirup udara segar seperti yang bisa kita hirup sekarang.

Tags: ,

About qivi

No body's perfect, I'm No body, so I'm perfect...

One response to “Pajak Untuk Lingkungan (Tax Goes Green) Wacana Peran DJP Dalam Memperbaiki Iklim Dunia”

  1. fiskus_low profile says :

    untuk kebijakan nomor 2, harusnya jangan “dibebaskan” tetapi seharusnya alternatifnya “tidak dikenakan PPN” , “dikenakan PPN dengan tarif 0%”, “PPN ditanggung pemerintah”, atau “dikenakan PPN tetapi tidak dipungut” . Karena kalo dibebaskan, prinsipnya pajak masukan (PM) tidak dapat dikreditkan bos, so apalagi yang mo direstitusi lagi ma PKP-nya. Sedangkan untuk alternatif yang selain itu, PPN masukan atas produksi sollar cell tersebut masih tetap dapat “dikreditkan”.
    Lagipula kalo dalam kasus pembelian dalam hal ini PPN Masukan, sebenarnya tidak ada pengaruhnya terhadap PKP (pembeli) atas restitusi PPn yang dia sampaikan melalui SPT-nya. Toh, hasil PK-PMnya akan tetap sama, apabila terhadap sollar cell tersebut dikenakan maupun tidak dikenakan PPN pada saat pembeliannya. so, aye kira ni..soal restitusi atas pembebasan PPN atas sollar cell lebih berpengaruh pada PKP (penjual).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: