Kaum Ummi Berakhlak Rabbani (Sebuah Potret Kemuliaan Akhlak Salaful Ummah)

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka                         (QS. Al Jumu’ah:2)

Saat ini, telah tersebar anggapan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang beradab karena memiliki wawasan akan ilmu modern. Meskipun ilmu seperti ini perlu untuk dipelajari, namun kesimpulan prematur diatas tidak bisa langsung diterima. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang disepakati seluruh kaum muslimin di dunia sebagai manusia paling mulia, justru seorang yang tidak bisa menulis dan membaca. Allah berfirman :

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut : 48)”

Namun beliau adalah penghulu orang-orang beradab dan berakhlak paling mulia. Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam : 4).

Demikian pula para sahabat. Mereka adalah kaum yang ummi. Rasulullah bersabda :

“Kami adalah umat yang ummi (buta huruf), tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab (hitungan)” (HR: Bukhari, Muslim, An-Nasa’I, Abu dawud, dan Ibnu Majah)

Namun begitu mereka adalah kaum yang telah disepakati kemuliaanya. Allah telah menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang diridhai. Allah berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah” (At-taubah :100)

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]”

Pujian apa lagi yang lebih tinggi daripada pujian sebagai umat yang diridhai Allah dan dinyatakan sebagai umat yang terbaik?

Inilah dia, kaum yang ummi (buta huruf) telah mengungguli dan jauh lebih baik akhlaknya daripada kaum yang menyatakan dirinya sebagai kaum intelektual dan terpelajar. Dengan apakah mereka bisa lebih unggul? Dengan sikap taslim, menyerahkan diri pada Allah, dan sikap mendengar dan patuh atas apa yang Rasulullah sabdakan. Lantas, dimana manfaat wawasan orang-orang kafir? Berikut ini sekilas contoh kemuliaan akhlak kaum ummi yang sangat menakjubkan dan mengherankan, yang jika saja bukan karena sanad yang shahih, maka sungguh kita tidak akan bisa mempercayai kisah berikut ini.

‘Amr bin Ash berkata : “Tidak ada orang yang lebih aku cintai daripada Rasulullah, tidak pula lebih mulia di pandanganku daripada beliau. Aku tidak mampu untuk memandang beliau dengan sepenuh pandangan karena menghormati beliau. Kalau aku diminta untuk menerangkan sifat beliau, maka aku tidak akan bisa, karena aku tidak pernah memandang beliau dengan sepenuhny”

Lihatlah lagi kisah persaudaraan antara Kaum Anshar dan Muhajirin berikut ini:

“Ketika Muhajirin sampai di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad Ar Rabi’. Sa’ad mengatakan pada Abdurrahman : “Aku orang Anshar paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku menjadi dua. Aku juga memiliki dua orang istri, lihatlah mana yang paling membuatmu tertarik. Sebutkan namanya lalu aku akan menceraikannya. Bila masa iddahnya telah selesai, menikahlah dengannya.” ‘Abdurrahman berkata “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Dimanakah pasar kalian?” Lalu mereka menunjukkan pasar Bani Qainuqa’…”

Inilah sebagian dari akhlak mereka. Dimanakah kita menemukan sambutan seperti ini? Kedemawanan dan persaudaraan mencapai tingkatan membagi isteri dan harta pada saudara sesama muslim. Orang Anshar mendahulukan saudaranya pada perkara paling berharga yang ia miliki, yang biasanya orang-orang saling bertengkar karenanya; wanita dan harta. Sedangkan orang Muhajirin tidak memanfaatkan perasaan saudaranya itu untuk mendapatkan harta dan isterinya dan hidup bergantung padanya. Inilah suatu akhlak agung yang sekali lagi telah dicapai oleh kaum yang ummi.

Akankah akhlak mulia seperti ini bisa kita temukan di masyarakat yang menyatakan dirinya atau dinyatakan  memiliki peradaban dan wawasan?

Kisah berikutnya. Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu,bahwasanya ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi, kemudian beliau mengutus untuk menanyakan kepada isteri-isteri beliau. Mereka mengatakan “Kami tidak memiliki kecuali air”. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Siapakah yang bersedia mengajak atau menjami orang ini?’ Ada seorang dari kalangan Anshar : ‘Saya!’ Kemudian ia mengajaknya ke rumah isterinya. Orang Anshar itu mengatakan kepada isterinya ‘Muliakanlah tamu Rasulullah ini’ Isterinya menjawab : ‘Kita tidak memiliki kecuali makanan untuk anak-anak kita!’ Orang Anshar itu mengatakan : ‘Siapkan makananmu, matikanlah lampumu dan tidurkanlah anak-anakmu bila mereka minta makan malam mereka !” Lalu isterinya menyiapkan makanan, mematikan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Isterinya itu berdiri seakan sedang memperbaiki lampunya kemudian mematikannya. Keduanya  (suami isteri itu) menampakkan bahwa mereka berdua sedang makan. Sehingga pada malam itu mereka bermalam dalam keadaan kelaparan. Ketika pagi, ia menuju pada Rasulullah dan beliau bersabda :

“Pada malam ini, Allah tertawa atau takjub karena perbuatan kalian berdua!!”

Lalu Allah menurunkan ayat “

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (QS. Al-Hasyr : 9)

Kisah berikutnya adalah keagungan dari sikap itsar (mendahulukan saudarnya yang lain) yang telah mencapai puncaknya, yang dipraktekkan oleh para sahabat sebagai hasil dari madrasah nubuwwah. Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah mening-gal tanpa sempat merasakan air tersebut (sedikitpun).  (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr).

Dimanakah kita bisa mendapatkan akhlak agung seperti ini? Di universitas-universitas kaum sekuler yang membahas ilmu-ilmu modern? Atau justru di madrasah kenabian yang dididik oleh rasul yang ummi dengan santri santri yang ummi pula?.

“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” [Hadits Riwayat Bukhari 13, Muslim 45 bersumber dari sahabat Anas]

Betapa agung kisah-kisah diatas. Betapa agung akhlak mereka hingga ada yang membuat Allah takjub dan tertawa sesuai dengan Kesucian dan KeagunganNya. Kalau saja bukan karena sanadnya yang shahih, maka orang yang mendustakan kisah ini memliki alasan yang dapat diterima.

Inilah tarbiyah seorang Nabi yang ummi pada kaum yang ummi. Sungguh mereka telah berakhlak dengan semulia-mulia akhlak. Mereka benar-benar berakhlak dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, perbaikan akhlak bukanlah dikarenakan wawasan duniawi dan pengetahuan akan ilmu modern. Namun perbaikan akhlak hanya akan ada ketika kembalinya urusannya kepada keagamaan yang benar yang akan mentarbiyah manusia dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya hanya agama yang dibawa Rasulullah yang akan menjamin akhlak tiap insan menjadi akhlak yang baik. Bila pada umat selain Islam ada akhlak yang baik –dan itu pasti ada- maka dalam agama ini lebih sempurna. Adapun ilmu-ilmu peradaban, pemanfaatannya tentu harus disertai dengan syarat agama yang benar dan akhlak yang utama.

Maraji:

–          Al-Qur’anul Karim.

–          Kisah dan hadits dinukil dari buku “Terperdaya dengan Gaya Hidup Orang Kafir”, Bab Kemunduran Akhlak Bukan Karena Kurang Wawasan, Pengarang Syaikh Abdul Malik Ramadhani, Penerbit Gema Ilmu, Penerjemah: Fathul Mujib bin Bahruddin,..dengan pengubahan seperlunya.

–          Artikel dari Al-Sofwah.or.id berjudul “Itsar Meluluhkan Individualisme” (dari Software An-Najiyah).

–          Sumber-sumber lainnya.

Tags: , ,

About qivi

No body's perfect, I'm No body, so I'm perfect...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: