BOLEHKAH ISTRI MEMBAYAR ZAKATNYA KEPADA SUAMINYA, JIKA SANG SUAMI TERMASUK ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT ?

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya seorang wanita memberikan zakat kepada suaminya dalam dua pendapat:

Pertama, tidak boleh membayar zakat pada suaminya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Imam Malik, dan sebuah riwayat dari Ahmad. Hujjah mereka dalam masalah ini:

  • Ia adalah salah seorang dari suami-istri, maka tidak boleh salah satunya membayarkan zakatnya kepada yang lainnya
  • Istri dapat mengambil manfaat dari zakat yang diberikannya kepada suaminya.

Kedua, boleh seorang istri membayarkan zakatnya kepada suaminya. Ini adalah pendapat madzhab asy-Syafi’I dan riwayat lain dari Ahmad. Ini adalah pendapat yang rajih (kuat), karena selaras dengan dalil Hadits Abu Sa’id, “ Zainab, istri Ibnu Mas’ud berkata,’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah memerintahkan pada hari ini untuk bersedekah. Aku memiliki perhiasan, dan aku ingin menyedekahkannya. Tapi Ibnu Mas’ud mengatakan, dia dan anaknya yang paling berhak menerima sedekahku. Mendengar hal itu Nabi bersabda: “Benar kata Ibnu Mas’ud! Suami dan anakmu paling berhak menerima sedekahmu.” (HR Al Bukhari, Muslim)

Apalagi istri tidak wajib memberi nafkah kepada suaminya, maka tidak dilarang memberikan zakat kepadanya seperti halnya memberikan kepada orang lain.

Adapun zakat suami tidak boleh diberikan kepada istrinya, karena nafkah istrinya merupakan kewajibannya. Ia sudah cukup memberikan nafkah kepadanya, bukan zakat. Ibnu Al Mundzir telah menukil ijma’ dalam masalah ini.

Demikian juga diperbolehkan membayarkan zakat kepada kaum kerabat, jika mereka termasuk golongan yang berhak menerima zakat, dan ini lebih utama daripada membayarkannya kepada orang lain. Ini berdasarkan hadits Nabi : “Sedekahmu kepada kaum kerabatmu adalah sedekah sekaligus menyambung silaturrahim” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibn Majah dengan sanad yang terdapat kedhaifan di dalamnya).

Ini dikuatkan lagi dengan hadits Zainab, ia dan seorang wanita Anshar bertanya kepada Nabi tentang bersedekah kepada suami,”Sahkah sedekah dari mereka kepada suami mereka dan anak anak yatim yang berada dalam asuhan mereka? Maka Nabi menjawab “Ya, dan ia mendapat dua pahala; pahala kekerabatan dan pahala bersedekah” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Nabi berkata pada Abu Thalhah ketika datang dengan membawa zakatnya kepada beliau,”Menurutku lebih baik engkau memberikannya kepada kaum kerabatmu.”(HR Al Bukhari dan Muslim)

Artikel dinukil dari, Buku Shahih Fiqh Sunnah Jilid 3 hal 98-99 (Penerbit Pustaka At-Tazkia), Bab Zakat, Penulis Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim dengan pengubahan seperlunya.

Tags: , , ,

About qivi

No body's perfect, I'm No body, so I'm perfect...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: