SEDIKIT IBRAH DARI PERJALANAN HIDUP SYAIKH ALBANI

“Tidaklah saya mengatakan demikian karena fanatik terhadap guruku, tetapi saya belum pernah melihat seorang pun sepertinya” (Ucapan Imam al Hakim tentang gurunya Abu Ali An Naisaburi)

Muhammad bin Nashiruddin Al Albani, sebuah nama tersohor sekaligus “menggemparkan” dunia Islam pada abad ini. Siapa yang tak kenal?  Mulai dari para thalibul ilmi, terutama yang menggeluti ilmu hadits, sampai sekedar seorang mustami’, tentu pernah mendengar namanya. Ulama ahli hadits abad ini, pembela sunnah, Mujaddid, begitulah kata orang yang mengagumi dirinya. Muhaddits tanpa sanad, Muhaddits keluaran perpustakaan, wahabi tulen, begini kata orang yang benci padanya. Untuk melihat betapa fenomenalnya Syaikh ini, lihat saja banyaknya ulama sekarang yang menisbatkan diri sebagai muridnya. Betapa banyak buku yang telah ia karang, atau terbit terkait dengan dirinya, baik yang membela ataupun menghujatnya.

Terlepas dari berbagai macam polemik terkait dengan Syaikh Albani, penulis menemukan dua kisah dari sekian banyak kisah yang dapat dijadikan pelajaran terkait dengan kisah hidup Syaikh Albani. Sependek pengetahuan saya, kisah ini tidak terlalu mu’tabar, namun sangat berkesan di hati saya dalam menunjukkan betapa Syaikh Albani begitu semangat, begitu dahsyat, dan begitu istiqomah dalam menggeluti ilmu hadits. Mungkin pengantar ini terkesan overwhelming, tapi mgkn perasaan ini akan datang kepada saudara ketika membacanya. Berikut kisahnya:

1.     “…ternyata sampai empat juz dalam tiga jilid, mencapai 2012 halaman dengan dua macam khath (bentuk tulisan) yang berbeda.”

Kisah ini dinukilkan dari ebook Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kenangan, yang dinukil dari buku buku: Ulama wa Mufakkiruun ‘araftuhum karya Ustadz Muhammad Al-Majdzub.

Setelah Syaikh Albani menceritakan motivasi dan kerja kerasnya dalam menelaah dan mentakhrij buku Bahasa Arab, Gharibul Hadits, dan Balaghah, ustadz Muhammad al majdzub menceritakan :

“Syaikh Al-Albaani telah menunjukkan kepada saya hasil salinan dan ringkasan beliau itu, ternyata sampai empat juz dalam tiga jilid,mencapai 2012 halaman dengan dua macam khath (bentuk tulisan) yang berbeda. Pertama, tulisan biasa dan kedua tulisan yang lebih halus di catatan kaki, berisi keterangan-keterangan dan koreksi-koreksi. Demi Allah, kerja keras seperti itu barangkali tidak mampu dilakukan oleh alim ulama zaman sekarang apalagi para pelajar Jami’ah yang biasanya tidak memiiiki tekad kuat yang mendorong mereka untuk bersabar dalam meneliti dan membahas. Apalagi pada saat itu usia beliau belum mencapai dua puluh tahun.

Tidak heran bila kerja keras spektakuler dalam menyusun pembahasan tersebut, dengan mempergunakan seluruh sarana-sarana penelitian vang dapat beliau peroleh pada masa muda beliau itu,

berpengaruh sangat besar dalam membantu kelanjutan penelitian ilmiah semacam ini. Meskipun sebenamva beliau belumpuas dengan hasil tersebut karena jalan ke depan untuk meraih apa yang beliau

inginkan itu masih berliku dan sangat berat.

Dengan poia hidup, perkembangan dan lika-liku tantangan seperti itu tampaklah beberapa faktor tersembunyi yang mendorong beliau terus melangkah dalam bidang ini. Kemudian pada akhirnya menjadikan beliau salah seorang tokoh besar pembela Sunnah nabi di seputar Svuria.

(Majdzub l/291)

Suatu hal yang sangat mengagumkan, bagaimana seorang pemuda berusia di bawah dua puluh tahun (mungkin seumuran anak SMA atau pelajar tingkat 1-2 di universitas) sudah memiliki manuskrip tulisan tangan sendiri setebal sekitar dua ribu halaman. Itu sekitar 2 rim kertas lho. Seumur umur kuliah, kalau semua tugas, karya tulis, ama catatan kuliah dikumpulin, kayaknya gak mungkin nyampe dua ribu halaman (ketahuan malesnya).  Dalam benak saya, ada gak ya mahasiswa di universitas universitas islam saat ini, especially yang menggeluti ilmu hadits, yang bisa mengimbangi pemuda 20 tahun bernama Muhammad Nashirrudin al Albani?

2.     Al Albani dan Lembaran yang Hilang

Kisah ini dinukil dari buku berjudul Lilin Yang Tak Pernah Padam karangan Abu Malik Muhammad ibn Hamid ibn Abdul Wahab terbitan Qisthi Press. Syaikh Albani bercerita:

“Suatu hari saya merasakan sakit pada kedua mata saya. Maka saya pun pergi ke dokter dan menceritakan keluhan saya. Setelah memeriksa saya, dokter itu bertanya kepadaku tentang pekerjaan saya. Saya menjawab,”Waktu-waktuku habis untuk membaca buku.”

Setelah mendapat jawaban itu, dokter itu pun menyarankan agar saya beristirahat selama enam bulan sambil terus melakukan pengobatan.

Saya pun pulang dan memutuskan untuk memenuhi nasehat dokter tersebut. setelah berjalan dua minggu tanpa mengerjakan sesuatu dan tidak pergi untuk belajar, saya merasakan kegelisahan dan kejemuan yang luar biasa.

Di tengah situasi kegelisahan itu, aku teringat bahwa di dalam perpustakaan Azh Zhahiriyah  terdapat beberapa kumpulan dan tulisan dan makalah. Dan salah satunya adalah terdapat dalam buku Dzummi al Malahi, karya Ibnu Abi Dunya.

Lalu, saya meminta tolong pada seorang juru tulis di perpustakaan itu untuk menyalin karya tersebut. Setelah itu, saya pergi ke perpustakaan itu dan ternyata di dalam karya tersebut terdapat kekurangan. Maka saya berpesan kepada penyalinnya agar melanjutkan dan menyempurnakan pekerjaannya. Namun, ternyata ada satu lembar tulisan yang hilang teks aslinya dan harus dicari sampai ketemu.

Maka, saya pun mulai mencari lembaran yang hilang tersebut. Pertama kali, saya mencarinya di sebuah tempat yang berada di sebelah perpustakaan. Tempat itu diberi nama al-Majami. Saat saya melakukan hal tersebut, saya merasa mendapatkan keuntungan yang sangat besar, yaitu mendapat ilmu. Karenanya, saya semakin bersemangat untuk mencari lembaran yang hilang tersebut. bahkan tanpa kusadari saya telah memeriksa lebih dari lima ratus jilid buku. Padahal pekerjaan itu hanya untuk mencari satu lembar yang hilang.

Setelah tak juga menemukan, saya mengambil tangga untuk memeriksa di buku-buku yang berada di rak bagian atas. Saya memeriksa setiap jilid buku dan menulis apa yang saya lihat. Saya sungguh mendapatkan banyak manfaa dari pencarian ini. Allah telah membukakan banyak hal kepada saya dalam pencarian ini.

Setelah saya periksa dan tidak menemukannya juga, akhirnya saya mencoba berpindah ke tempat lain. Saya menuju ke sebuah tempat yang disebut ad Dast atau ad Dasyt (yaitu sebuah ungkapan atau istilah untuk menaruh kertas-kertas yang ditumpuk). Kertas tumpukan ini tidak pernah disentuh orang. Maka saya meminta izin kepada petugas perpustakaan yang bernama Abi Mahdi agar menunjukkan tempat yang disebut ad Dast itu. Kemudian beliau menunjuk ke suatu tempat. Saya pun melangkah ke arah yang ia tunjuk dan memulai pencarian.

Dan akhirnya, Allah membukakan jalan. Di tempat itu, saya menemukan sebuah naskah dari Marok yang berjudul Musnad Asy Syihab, karya Imam al Qadha’i. dengan karunia ini, saya dapat menyempurnakan penulisan naskah pertama yang ada di perpustakaan Azh Zhahiriyah, yaitu Musnad Asy Syihab . dengan rasa gembira saya menemui direktur perpustakaan. Tapi, direktur itu tidak menanggapi keberadaan naskah yang berharga tersebut karena ia tidak tahu nilai yang termuat di dalamnya.

Lalu bergantilah bulan dan tahun, maka Syaikh Hamdi Abdul Majid as-Salafi men-tahqiq dan mencetak naskah yang saya cari-cari tersebut. karya itu dicetak di perpustakaan tempat kerja Syaikh Syu’aib al Arnout, yaitu Muassasah ar Risalah. Setelah itu saya kembali mengurutkan nama nama pengarang yang berhasil saya tulis. Saya menuliskannya kembali ke dalam bentuk kartu kartu, dan mengurutkan rak rak buku sesuai nama pengarangnya sesuai urutan huruf hijaiyyah. Dari kejadian itulah daftar isi kitab tulisan tangan dari Maktabah Azh Zhahiriyah dibuat. Inilah kisah singkat tentang lembaran hilang yang tercecer.

Penutup

Para ulama ahli hadits merupakan pewaris Rasulullah. Mereka hidup begitu dekat dengan Rasulullah, dan bernafas dengan nafas sunnah Rasulullah walaupun dipisahkan zaman yang sangat jauh. Jika bukan mereka golongan yang selamat, maka siapa lagi. Walaupun demikian, sesuai dengan perkataan Imam Malik, semua ucapan boleh ditolak kecuali perkataan Rasulullah.

Syaikh Albani, mau tidak mau, suka tidak suka, bersanad ataupun tidak, adalah seorang ahli hadits yang mumpuni. Baik kawan ataupun lawan mengakui ketinggian ilmunya. Jika kita menghiraukan jasa-jasanya dalam menghidupkan sunnah, sama saja seperti menghiraukan matahari di siang bolong. Terlalu besar jasanya untuk tidak dianggap, terlepas dari segala kekurangan yang ada padanya. Karena tidak ada manusia sempurna dan ma’shum seperti Al Musthafa Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Maraji’ :

–       Ebook Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam kenangan, karangan Umar Abu Bakar.

–       Lilin Yang Tak Pernah Padam, karangan Abu Malik Muhammad ibn Hamid ibn Abdul Wahab, terbitan Qisthi Press.

–       Syaikh Al Albani dihujat, karangan Abu Ubaiday Yusuf bin Mukhtar As Sidawi, terbitan Salwa Press

Tags: , , , , ,

About qivi

No body's perfect, I'm No body, so I'm perfect...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: