JANGAN IRI (HASAD)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

Perasaan tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dari Penciptanya memang selalu menjangkiti hati setiap insan. Iri, dengki, atau hasad merupakan nama yang tersemat pada penyakit hati tersebut. Penyakit ini akan kian parah ketika dibarengi dengan harapan hilangnya nikmat Allah dari orang lain.

Perasaan ini mengena, tak kenal suku, agama, umur, profesi, ataupun jenis kelamin. Semua kan terjangkit karena sifat ini telah terpatri dalam tabiat manusia. Mulai dari ulama hingga penjudi, presiden hingga gembel, kakek-kakek hingga anak-anak. Semua kan terkena. Pernah sy teringat, perasaan iri saya ketika TK dulu, ketika seorang teman saya ke sekolah dengan memakai kostum Superman, lengkap dengan sayapnya, warna merah biru yang mencolok mata, dan lambang hurup “S” yang begitu perkasa. Mulut hanya ternganga melihat dia dikerumuni hampir satu sekolah, mengagumi baju yg ia kenakan, mungkin ditambah perasaan heran akan pakaian dalam yang dipakai tidak pada tempatnya. Terbersit keinginan merebut baju tersebut, tp apalah daya. Sempat terpikir apa sih kurangnya saya dengan dirinya (ya jelas kurang duit bwt beli baju superman), knp bukan saya yang punya? Pdhal sy merasa sebagai fans berat superman ketika TK (anak TK kok udh berpikir sebegini jauhnya ya ?…)

Eniwei, itulah iri. Menjangkit tak diundang. Buruk nian memang. Betapa tidak? Sifat irilah yang menyebabkan pembangkangan pertama, terjadi langsung di hadapan Yang Maha Kuasa. Iblis, tlah terjangkit iri, ketika Allah Jalla Wa A’la menyuruh makhlukNya bersujud pada Adam yang tlah diciptakan dengan Kedua TanganNya. Mengapa harus kepada Adam pikirnya? Iri pula lah yang telah menyebabkan pembunuhan pertama terjadi di muka dunia. Ketika seorang anak Adam membunuh saudaranya, akibat rasa iri akan nikmat yang diterima saudaranya. Masihkah anda mengira sifat iri ini biasa?

Maukah anda melihat orang paling bakhil di dunia? Lihatlah pada orang yang iri hatinya. Dia telah pelit, bakhil atas apa yang tak ia punya. Dia marah atas takdir Allah pada saudaranya. Sungguh seluruh nikmat hanya milik Allah semata. Kemana Ia berikan, pada siapa Ia titipkan, tentu suka-suka Dia. Mengapa marah atas apa yang Allah lakukan? Pernahkah si pendengki terlibat dalam penyusunan takdir dunia? Allah yang memiliki, Allah yang menyusun sedemikian rupa, dan manusia tidaklah berpunya. Lalu, apa yang mesti diirikan?

Maukah anda melihat pada orang paling sengsara di dunia? Lihatlah pada orang yang iri hatinya. Betapa sedih dirinya melihat nikmat yang diberikan untuk saudaranya. Sungguh ia bagaikan orang melempar lumpur ke tembok. Tembok tak runtuh, lumpur malah balik ke muka. Orang yang diirikan tak akan celaka dengan rasa iri dalam hatinya. Malah ia yang sengsara, ketika amalnya lenyap, sedikit demi sedikit bagaikan kayu bakar dimakan api. Kebaikan orang yang iri akan diberikan pada orang yang didengki (dihasad) dan kejelekan orang yang didengki (dihasad) akan beralih pada orang yang iri. Semua ini bisa terjadi, karena orang yang iri bagaikan orang yang menzholimi orang lain. Lebih-lebih lagi jika hasad tadi diteruskan dengan perkataan, perbuatan dan ghibah (menggunjing). Tentu akibatnya kan lebih parah.

Karena itu wahai saudaraku, betapa beruntung orang yang tidak memiliki hasad dalam hatinya. Dengan izin dan rahmat Allah ia kan menjadi penghuni syurga. Ingatkah kalian akan kisah di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ttg seorang sahabat (Abdullah bin Amr bin Ash Radiyallahu Anhu) menyelidiki amal apa yang menyebabkan seorang sahabat Anshar dijamin masuk syurga oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam? Ingatkah kalian akan jawaban sahabat Anshar tersebut? Sang sahabat Anshar tadi menjawab “Aku tidak mengerjakan amalan apa-apa (tambahan : yg spesial), hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya”. Lihatlah ini saudaraku. Tiga hari berturut-turut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengabarkan kedatangan seorang penghuni syurga yang merujuk pada dirinya. Dengan apa ia mengharap syurga tersebut? Apakah dengan jihad yang ia lakukan? Apakah  dengan sedekah berjuta-juta? Atau justru  dengan amalan hatinya yang begitu mulia? Kisah selengkapnya di sini

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberikan uzur (keringanan) untuk bisa ngiri hanya pada dua orang saja. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda Tidak boleh hasad (iri) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”(HR : Bukhori dan Muslim). Iri yang diperbolehkan ini disebut ghibthoh. Ngiri pada kedua orang ini agar menjadi motivasi untuk berbuat lebih banyak kebaikan. Kalaulah adalagi pembolehan untuk iri selain untuk kedua orang tadi, tentu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah memberitakannya.

Sebab itu, wahai saudaraku, syukur, qana’ah (merasa cukup dengan yang Allah beri), merupakan obat sakit iri. Membuang kesombongan juga dapat menjadi terapi menyembuhkan iri, sebab tidaklah sakit iri datang kecuali didahului gejala perasaan lebih baik daripada orang lain. Namun jika iri tetap menjangkiti, cobalah ingat perkataan Ibnu Sirin berikut ini “Aku tidak pernah dengki kepada seorangpun dalam urusan duniawi; sebab jika dia termasuk penghuni surga maka bagaimana mungkin aku hasad kepadanya pada urusan dunia yang hina di banding surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka bagaimana mungkin saya dengki kepadanya dalam urusan dunia kalau akhirnya dia berujung pada neraka”.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi nasehat untuk kita semua, terutama pada pribadi penulis. Dan semoga Allah memberi taufik untuk terhindar dari penyakit ini.. Amin, Yaa  Mujibas Saailin.

Kami tutup dengan firman Allah :

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf: 32).

Tags: , , , ,

About qivi

No body's perfect, I'm No body, so I'm perfect...

2 responses to “JANGAN IRI (HASAD)”

  1. Miftahul Khoir says :

    Keren bro, tfs…😀

  2. kemboo says :

    amieeeennnn……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: